“If you want to be a writer, you must do two things above all others: read a lot and write a lot." Stephen King

About Me

Foto Saya
A goofy dreamer. Not a genius, nor brilliant. A student in Hasanuddin University majoring English Department.Doraemon addicted. Imprinted by Taylor Lautner.

Meet Me on Twitter

Sabtu, 29 Oktober 2011

Makalah Dasar Dasar Filsafat


 Hubungan Filsafat dengan Alam



Pendahuluan
Ø  Filsafat
Tujuan studi filsafat adalah mengantarkan seseorang ke dalam dunia filsafat, sehingga minimal dia dapat mengetahui apakah filsafat, maksud dan tujuannya.
Menurut Prof. Dr. Notonagoro, studi filsafat dimaksudkan untuk ‘pendidikan mental’. Pendidikan mental yang dimaksudkan adalah cara atau bentuk mentalitas filsafat yang memuat tujuan umum dan tujuan khusus.
Adapun tujuan umumnya  adalah menjadikan  manusia yang susila. Pegertian “susila” di sini terdapat dalam ruan lingkup tertentu sesuai dengan tempat dan aturan yang ada. Orang yang susila dipandang sebagai ahli filsafat, ahli hidup, dan sekaligus sebagai orang tersebut akan mendapatkan kehidupan yang bahagia.
Sedangkan, tujuan khususnya adalah menjadikan manusia yang berilmu. Dalam hal ini, ahli filsafat dipandang sebagai orang yang ahli dalam bidang ilmu pengetahuan (ilmuwan), yag selalu mencari kenyataan kebenaran dari semua problem pokok keilmuan.
Di dalam sejarah ilmu pengetahuan telah di terangkan bahwa pada mulanya hanya ada satu ilmu pengetahuan yaitu filsafat. Kedudukan filsafat pada waktu itu sebagai induk dari ilmu pengetahuan atau mother of science. Namun, didalam perkembangannya masing-masing ilmu  memisahkan diri dari filsafat. Sebagai induk ilmu pengetahuan, maka filsafat akan menjadi dasar, perangkat serta pemersatu, karena setiap cabang ilmu pengetahuan apabila ia sampai pada masalah-masalah yang fundamental mau tidak mau akan kembali kepada filsafat.
Dewasa ini, banyak bemunculan cabang-cabang filsafat yang baru, yang merupakan pendalaman lebih lanjut dari ilmu pengetahuan, misalnya : filsafat komunikasi, filsafat matematik, filsafat administrasi, filsafat arsitektur dan filsafat perang. Sehingga, kedudukan filsafat yang semula sebagai induk ilmu pengetahuan bergeser menjadi penghubung di antara ilmu pengetahuan. Jadi, filsafat sebagai sistem interdisipliner artinya filsafat itu menghubungkan antara ilmu yang satu dengan ilmu yang lain. Filsafat merupakan tempat bertemunya cabang-cabang ilmu pengetahuan.
Ø  Alam

Manusia yang berfungsi daya nalarnya (akalnya) selain mengenali dirinya sendiri, ia sudah dapat mengenali lingkungannya, orang-orang yang ada di sekitarnya, demikian pula benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang dapat ia lihat dan rasakan, semua itu membentuk dalam benaknya konsep “alam” dan “kehidupan”. Konsep ini berkembang menuju suatu kesempurnaan melalui ajaran kepercayaan atau agama yang dianut masyarakatnya terutama orang tuanya, dan melalui pendidikan dan pengajaran yang di terimanya.
Dewasa ini, pengetahuan manusia tentang “alam” sudah sangat luas dan ilmu serta tekhnologi sudah sedemikian majunya seakan-akan manusia sudah mampu menguasai  alam raya.
Ribuan tahun yang lalu, di Mesir dan Mesopotamia, manusia sudah bertanya tentang asal alam semesta. Untuk menemukan kesatuan dalam kemajemukan, dicari unsur induk dari segala sesuatu. Kosmologi berkembang di Yunani dan memberi hidup kepada ilmu alam. Ilmu alam sudah lama dewasa dan dipilih sebagai model untuk banyak ilmu lain. Bersama dengan spesialisasi ilmu alam yang sangat maju, dirasa keperluan akan suatu refleksi yang lebih mendalam yang memperhatikan keseluruhan. Refleksi ini merupakan bidang kosmologi. Kosmologi merupakan rangka umum dimana hasil-hasil dari ilmu alam dapat dipasang. Kosmologi sekarang memandang alam sebagai suatu “proses”. Kosmos itu bukan sistem tetap,dan tak terhingga, melainkan suatu proses perkembangan


Filsafat
A.      Pengertian Filsafat
Arti Etimologis
                Kata filsafat berasal dari kata Yunani filosofia, yang berasal dari kata kerja filosofein, yang berarti mencintai kebijaksanaan. Kata tersebut juga berasal dari kata Yunani philosophis yang berasal dari kata kerja philein yang berarti mencintai, atau philia
Yang berarti cinta, dan sophia yang berarti kearifan. Dari kata tersebut lahirlah kata Inggris philosophy yang biasanya di terjemahkan sebagai “cinta kearifan”.
Berikut beberapa pendapat para filsuf dan ahli filsafat atau pemikir mengenai definisi filsafat :
·         Plato (427 – 347 SM), “Filsafat tidak lain adalah pengetahuan tentang segala hal”
·         Aristoteles (384 – 322), “Filsafat itu menyelidiki sebab dan asas segala benda.”
·         Al-Farabi, “Filsafat itu adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikatnya yang sebenarnya.”
·         Francis Bacon (1561 – 1626), “Filsafat merupakan induk agung dari ilmu-ilmu, dan filsafat menangani semua pengetahuan sebagai bidangnya.
·         Rene Descrates (1596 – 1650), “Filsafat merupakan kumpulan segala pengetahuan, dimana Tuhan, alam, dan manusia menjadi pokok penyelidikannya.

Suatu hal yang ideal adalah suatu yang berasal dari pemikiran yang mendalam, membutuhkan proses yang lama dalam pergulatan penemuan pengetahuan dan wawasan, yang melahirkan kesimpulan mendalam tentang suatu hal. Inilah yang dilakukan filsafat.

B.      Manfaat Mempelajari Filsafat
1.  Memahami bagaimana filsafat yang benar dan mana yang salah, mana filsafat yang membawa kemajuan dan mana filsafat yang memundurkan masyarakat. Intinya, dengan mempelajari filsafat, kita bisa tahu bagaimana masyarakat berkembang dan bagaimana pula filsafat mengiringi perkembangan itu. Kita akan tahu bagaimana perubahan cara berpikir bisa membawa kebangkitan manusia dan membuat mereka menghadapi realitas dan kadang juga mengubahnya.
2. Filsafat membuat kita mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Filsafat membantu kita untuk berpikir dan, dengan demikian, kita akan di pandu untuk memahami dunia bersama misteri-misterinya, dunia seakan menjadi gamblang dengan permasalahan-permasalahannya. Ini akan membantu kita mudah menghadapi masalah, dan kadang juga membuat kita mudah mengembangkan pengetahuan dan menggapai ketrampilan teknis. Kemandirian berpikir membuat kita tak perlu banyak bertanya pada orang lain, atau dalam konteks masyarakat kapitalis, kita tak perlu membeli pengetahuan untuk menjelaskan masalah kita.
3. Menggapai kebijakan dan nilai. Nilai diperoleh dengan pemikiran mendalam. Nilai itu penting untuk mengatur kehidupan sebab tanpa nilai kehidupan akan centang-perenang dan tanpa nilai manusia akan terombang ambing.
4. Menggapai kebenaran. Filsafat adalah jalan menggapai kebenaran karena proses berpikir mendalam itu pada dasarnya adalah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana hal itu bisa terjadi, terhadap suatu kenyataan.
5.Memahami diri sendiri dan masyarakat : menghilangkan egoisme, meningkatkan kesadaran kolektif (collective conscioiusness).

Alam

A.      Pengertian Alam

Alam ialah seluruh zat dan energi, khususnya dalam bentuk esensinya. Alam ialah mata pelajaran studi ilmiah. Dalam skala, "alam" termasuk segala sesuatu dari semesta pada subatom. Ini termasuk seluruh hal binatang, tanaman, dan mineral; seluruh sumber daya alam dan peristiwa (hurrikan, tornado, gempa bumi). Juga termasuk perilaku binatang hidup, dan proses yang dihubungkan dengan benda mati.alam juga menyimpan hal hal misterius untuk di ungkap lebih dalam dan banyak fenomena fenomena yang ajaib dan mustahil untuk di ungkapkan dengan kecanggihan ilmu apapun.
Menurut mutakallimîn (pakar ilmu Kalâm), alam adalah segala yang ada selain Tuhan atau ‘Al-Lathâ’if” (=kosmos) atau “‘Âlam Al-Syahâdah” (=alam yang terindera)  atau dengan bahasa modern: alam fisika.

Pada abad ke-6 SM, perkembangan terjadi di sejumlah tempat terpisah di seluruh dunia. Di berbagai wilayah, seperti di timur Mediterania, Cina, India, Yunani, para pemikir kreatif mulai memahami fenomena alam dengan akalnya.
Pada masa itu, ada keterangan-keterangan tentang terjadinya alam semesta serta dengan penghuninya, akan tetapi keterangan ini berdasarkan kepercayaan. Ahli-ahli pikir tidak puas akan keterangan itu lalu mencoba mencari keterangan melalui budinya. Mereka menanyakan dan mencari jawabannnya : apakah sebetulnya alam ini. Apakah inti sarinya? Mungkin yang beraneka warna dalam alam ini dapat dipulangkan kepada yang satu atau yang tidak banyak itu. Mereka mencari inti alam, dengan istilah mereka : mereka mencari arche alam. (Arche dalam bahasa Yunani berarti: mula, asal)

Ø Beberapa Pandangan mengenai Alam :
A.    Pandangan Yunani tentang Alam.
Para pemikir besar yunani yang mempermasalahkan alam ialah Thales (630-546 SM), Anaximander (hidup pada pertengahan abad ke-6 SM), Anaximenes (550 SM), para penganut paham pytagoreanisme (abad ke-5 SM), Plato (427-347 SM), dan Aristoteles (348-322 AM). Ketiga tokohyang oertama diatas mewakili ‘madzhab filsuf ionia’. Plato dan Aristoteles merupakan tokoh-tokoh terbesar dalam sejarah filsafat yunani. Plato merupakan guru Aristoteles. Demikian meresapnya serta lamanya pengaruh ajaran-ajaran mereka, A.N. Whiteheadmemberikan catatan bahwa segenap filsafat sesudah masa hidup Plato dan Aristoteles, sesungguhnya merupakan usulan-usulan belaka terhadap ajaran-ajaran mereka.
Kosmologi ajaran Aristoteles terdapat dalam buku XII kitab metafisika, dan erat sekali hubungannya dengan kosmologi ajaran Plato. Sulit bagi Aristoteles untuk membayangkan suatu alam bentuk-bentuk yang adanya terpisah dari objk-objek. Menurut pandangan Aristoteles, kenyataan sebenarnya adalah berupa satuan-satuan yang konkrit satu demi satu yang kita kenal didunia ini.

B.      Pandangan Mengenai Alam Pada Masa Renaissance.

Pandangan mengenai alam pada masa ini yaitu berupa mekanisme, seperti contoh bahwa sebuah arloji merupakan mekanisme yang rumit karena berjalan sesuai sesuai dengan prinsip-prinsip mekanika. Kamus Webster memberikan definisi mengenai mesin sebagai berikut : sebuah alat yang terdiri dari dua bagian atau lebih yang berada dalam hubungan saling menekan, yang dapat digunakan untuk mengalihkan serta mengubah tenaga dan gerakan begitu rupa sehingga dapat menghasilkan suatu fungsi yang di kehendaki oleh manusian.
Pengetian umum yang melekat pada istilah mekanisme (mesin) ialah sesuatu yang berjalan menurut hokum-hukum mekanika. Dengan demikian, pandangan yang mengambarkan dunia sebagai mesin mengatakan bahwa hokum-hukum mekanika berlaku bagi dunia, atau lebih tepat bahwa segenap proses yang terdapat di dunia dapat diterangkan dengan menggunakan hukum-hukum mekanika.

C.      Pandangan Eddington tentang Alam

Pandangan mengenai Alam yang di anut oleh Eddington yang dikemukakan di dalam buku The Nature of  the Physical world, yang pada bagian akhir buku ini ia memberikan penafsirannya serta pendiriannya mengenai alam semesta sebagai keseluruhan. Hendaknya pandangan yang ia anut tidak dianggap mewakili pandangan segenap ilmuwan; sebab banyak juga yang dengan keras menolak pendiriannya.
Hendaknya di ingat bahwa berdasakan bahan yang sama ternyata penyimpulan yang di lakukan oleh para ilmuan menunjukkan hasil yang berbeda-beda, di tinjau dari segi pendirian kefilsafatan. Penyimpulam yang dilakukan oleh Eddington dan Jeans membuahkan Idialisme. Penyimpulan yang dilakukan oleh Weyl dan Planck berakhir pada sejenis Realisme, dan yang dilakukan oleh Frank menghasilakan Positivisme, dsedangkan Brightmant mengambil bentuk Operasionalisme.
Dapat disimpulkan bahwa apabila orang-orang yunani memandang alam sebagai organisme dan mereka yang hidup pada masa Renaissance memandang alam sebagai mesin, maka Eddington memahamkan alam sebagai bahan yang bersifat akal. Setidak-tidaknya untuk sebagian, perubahan pandangan tersebut di sebabkan oleh berkuasanya abstraksi dalam ilmu modern.

Ø Beberapa pendapat ahli pikir yang berisaha mencari inti sari alam

a.         Thales (624 – 548) berpendapat bahwa, dasar pertama atau intisari alam ialah air. katanya, semuanya berasal dari air, dan semuanya kembali menjadi air. Bahwa bumi terletak di atas air, dan bumi merupakan bahan yangmuncul dari air dan terapung di atas air.
b.         Anaximandros mengatakan bahwa dasar pertama alam ialah zat yang tak tentu sifat-sifatnya, yang dinamainya to aperion, sebagai sesuatu yang tidak terbatas, abadi sifatnya, tidak berubah-ubah, ada pada segala-galanya, dan sesuatu yang paling dalam. Alasannya, apbila tentang arche tersebut ia menunjukkan pada salah satu unsur, maka unsur tersebut akan mempunyai sifat yang dapat bergerak sesuai dengan sifatnya sehingga tidak ada tempat bagi unsur yang berlawanan.
c.          Heraclitos berpendapat bahwa, segala sesuatu (yang ada itu) sedang menjadi dan selalu berubah. Segala yang ada, selalu berubah dan sedang menjadi, ia mempercayai bahwa arche (asasyang pertama dari alam semesta) adalah api. Api dianggapnya sebagai lambang perubahan dan kesatuan. Api mempunyai sifat memusnahkan segala yang ada, dan mengubahnya sesuatu itu menjadi abu atau asap. Walaupun sesuatu itu apabila dibakar menjadi abu atau asap, toh adanya api tetap ada. Segala sesuatunya berasal dari api, dan akan kembali ke api.


Korelasi Filsafat dengan Alam

Secara garis besar, alam sangat mempengaruhi timbulnya filsafat. Dimana para ahli pikir mulai menentang adanya mitos. Mereka menginginkan pertanyaan tentang misteri alam semesta ini yang jawabannya dapat diterima oleh akal (rasional). Keadaan yang demikian ini sebagai suatu demitologi, artinya suatu kebangkitan pemikiran untuk menggunakan akal pikir dan meninggalkan hal-hal yang sifatnya mitologi. Upaya para ahli pikir untuk mengarahkan pada suatu kebebasan berpikir ini menyebabkan banyak orang yang mencoba membuat suatu konsep yang dilandasi kekuatan akal pikir secara murni.
Alam juga menyebabkan para ahli pikir mengarahkan dan memusatkan perhatian pemikirannya kepada apa yang diamati disekitarnya. Mereka membuat pernyataan-pernyataan tentang gejala alam yang bersifat filsafati (berdasarkan akal pikir) dan tidak berdasaarkan pada mitos. Mereka mencari asas yang pertama dari alam (arche) yang sifatnya mutlak, yang berada dibelakang segala sesuatu yang serba berubah.
Seiring dengan perkembangan zaman, maka membuat manusia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap rahasia alam sehingga mencoba menjawab dengan menggunakan pengamatan dan penggunaan pengalaman tetapi sering upaya itu tidak terjawab secara memuaskan. Oleh sebab itu studi tentang filsafat alam berusaha untuk mengeksplorasi kosmos dengan cara apapun yang diperlukan untuk memahami alam semesta, sehingga beberapa ide mengandaikan bahwa perubahan adalah kenyataan.
Jadi, dengan banyaknya fenomena alam yang terjadi di dunia ini, membuat para ahli pikir mencari jawaban atas fenomena-fenomena alam tersebut, sehingga menimbulkan filsafat.


Kesimpulan

                Banyaknya fenomena-fenomena alam yang terjadi, membuat manusia ingin mencari jawaban atas fenomena-fenomena alam tersebut. Mereka mulai mencari suatu kebenaran lewat akal pikir (logos) dan mulai menentang adanya mitos. Para ahli pikir mulai mempercayai bahwa alam semesta ini dapat dimengerti oleh akal. Mereka kagum terhadap alam yang penuh nuansa dan ritue. Oleh karena itu ia menggunakan akalnya untuk mengamati alam. Mereka juga mengakui pentingnya mempelajari alam secara lebih luas dan perspektif. Dari pemikiran-pemikiran inilah kemudian lahir filsafat.



Daftar Pustaka

             Achamdi, Asmoro. 2010. Filsafat Umum. Jakarta: Rajawali Pers.
                Poedjawijatna, Prof. I.R. 1997. Pembimbing ke Arah Alam Filsafat.Jakarta: Rineka Cipta.
                Hamersma, Harry. 2010. Pintu Masuk ke Dunia Filsafat. Jakarta: Kanisius.
                Internet : http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat_alam
                Internet : http://www.anneahira.com/filsafat-alam.htm
Share on :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tweet It

Share It