Selasa, 06 Desember 2011

Another “Afterthought” For Me

Tuesday, December 6th 2011
Another “Afterthought For Me

Another “stupid thing” I’ve done to my best friend...
Selalu seperti ini...
Hanya karena saya sedikit “sakit hati”...
saya membalas rasa sakit hati saya terhadap orang yang telah membuat saya terluka...
Dan saya tidak pernah memikirkan konsekuensinya...
Mungkin saja mereka lebih terluka daripada saya...
Saya tidak pernah berpikir sebelumnya...
Dan pada akhirnya...
Saya menyesali perbuatan saya...
Mungkin,rasa egois masih terlalu banyak tertanam dalam diri saya...
Mungkin, saya belum bisa berpikir lebih ‘dewasa’...

Tetapi, disisi lain saya “sedikit” berbangga terhadap diri saya...
Kini, setiap kali saya berbuat kesalahan, saya dengan berani mengakui kesalahan tersebut...
Saya dengan berani meminta maaf atas kesalahan tersebut...
Tidak seperti dulu...
Saya dengan nyali ciut, lari dari setiap kesalahan yang saya perbuat & tak mau mengakuinya, bahkan cenderung menyalahkan orang lain...
One good step, but I realize its not enough...

Ada renungan yang semalam saya baca :

“Ketika kita memakukan paku ke dinding, terkadang ada suatu hal yang bisa jadi membuat kita mencabut kembali paku tersebut. Hal tersebut meninggalkan “lubang” di dinding. Kita bias saja menutup lubang itu dengan kapur tembok, dicat kembali hingga tak berbekas, tapi sebenarnya lubang itu tetap ada.
Sekecil apapun paku akan tetap meninggalkan bekas atau lubang di dinding.
Sadarkah kita kalau sebuah kemarahan yang mungkin hanya meledak sekali waktu dari kita pun bisa meninggalkan "lubang" yang tidak bisa tertutup hingga waktu yang lama?  
Ketika diliputi kemarahan kita tanpa sadar mengeluarkan kata-kata yang bisa menghujam hati orang lain seperti ditancap paku. Mungkin itu cuma akibat emosi sesaat dan karena hanya sesaat dalam waktu singkat kita pun sudah melupakannya, namun dampaknya bisa meninggalkan bekas bagi korban hingga waktu yang lama. Seringkali luka-luka seperti ini menjadi penghalang bagi mereka untuk maju dan sangat sulit untuk dibereskan. Kita mungkin hanya kelepasan karena emosi sehingga melempar kata-kata kasar secara spontan, tetapi seperti halnya dinding, kita meninggalkan bekas yang bisa jadi cukup dalam di hati orang lain dan melukai mereka untuk waktu yang lama, bahkan bisa berdampak negatif seumur hidup mereka.
Ada banyak kejahatan yang mengintai disana. Semakin lama kita membiarkan diri kita marah, maka semakin banyak pula kesempatan iblis untuk menghancurkan kita dengan berbagai bentuk kejahatan. Adalah relatif jauh lebih mudah untuk meredam emosi ketika masih baru, tetapi sangatlah sulit ketika emosi itu sudah terlanjur menguasai diri kita. Sekali lagi, ingatlah bahwa paku yang ditancapkan ke dinding meski kecil sekalipun akan tetap meninggalkan lubang atau bekas disana. Dan paku-paku itu bisa berterbangan keluar dari kemarahan kita dan melukai hati banyak orang. Berhentilah melukai orang lain terutama orang yang kita kasihi seperti orang tua, anak, suami/istr, sahabat dan lain -lain hanya karena kita tidak bisa mengendalikan emosi kita. Kuasai diri segera ketika marah, sehingga kita tidak sampai melukai orang lain hanya karena kita tidak bisa menahan emosi.”

Emosi sesaat bisa membawa bekas luka di hati orang sepanjang hidupnya

Kepada, orang-orang yang pernah saya sakiti...
Maaf, karena telah membuat bekas luka di hatimu...

He who loses many, loses much.
  But, who loses a friend, loses more.
  And who loses faith, loses all.
                (Anonymous)


Sahabat adalah kebutuhan jiwa, yang mesti terpenuhi
 dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih,
 dan kau panen dengan penuh rasa terima kasih.
 Dan dia pulalah naungan dan penghangatmu,
 Karena engkau menghampirinya saat lapar
 dan saat tubuh butuh kedamaian.
 Apabila dia bicara mengungkapkan pikirannya,
 Engkau tiada takut membisikkan kata “tidak” dikalbumu sendiri,
 kau juga tiada menyembunyikan kata “ya”
 Dan tiada maksud lain dari persahabatan
 kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.
 Karena kasih yang masih menyisakan pamrih, dalam jangkauan misterinya,
 bukanlah kasih, tetapi sebuah jala yang ditebarkan,
 Hanya menangkap yang tiada diharapkan.
 Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
 Jika dia harus tahu musim surutmu,
 Biarkanlah dia mengenal pula musim pasangmu”
 (Sang Nabi *The Prophet* ~ Kahlil Gibran)