Selasa, 10 April 2012

Teori Sastra : Formalisme Rusia

Formalisme Rusia muncul pada sekitar pertengahan dekade kedua abad ke-20. Gagasan-gagasannya muncul dari dua kelompok ilmuwan yang tergabung dalam Lingkaran Linguistik Moskow (Moscow Linguistic Circle) yang terbentuk pada tahun 1915 dan Society for the Study of Poetic Language (OPOYAZ) yang dibentuk pada tahun 1916 di Petrograd. Para ilmuwan itu bersepakat menolak asumsi-asumsi analisis teks yang umum dipakai sejak abad ke-19, terutama yang menganggap bahwa analisis teks dapat dilakukan dengan pendekatan psikologis dan biografis, di mana karya sastra diperlakukan sebagai ekspresi padangan dunia pengarangnya. Sebagai gantinya, mereka dengan tegas menyatakan otonomi sastra dan bahasa puitis serta mengusulkan pendekatan ilmiah dalam penafsiran karya sastra.

Gagasan yang mereka usulkan tersebut dianggap radikal karena untuk pertama kalinya dalam sejarah kritik sastra, sastra diperlakukan sebagai disiplin keilmuan yang mandiri dan bukan sekedar batu pijakan untuk membahas gagasan-gagasan yang berkenaan dengan filsafat atau bidang-bidang keilmuan lain. Karena hal itulah, maka para penggagas Formalisme Rusia dianggap sebagai pendiri kritik sastra modern. Namun karena hal itu jugalah mereka menjadi olok-olok  para ilmuwan lain yang menentang gagasan mereka. Bahkan istilah ‘Formalisme’ sendiri pada mulanya adalah nama ejekan yang diberikan oleh para penentang itu, yang tentu saja ditolak oleh para penggagasnya karena pendekatan metodologis yang mereka tawarkan sebenarnya tidak formal dan dogmatis seperti yang disangkakan oleh lawan-lawan mereka.

Gagasan para Formalis Rusia banyak dipengaruhi oleh bapak Strukturalisme Ferdinand de Saussure, yang gagasan-gagasannya menjadi acuan mereka dalam merumuskan bidang ilmu baru yang mereka usulkan. Seperti Saussure yang menganjurkan bahwa kajian bahasa harus berpusat pada wujud bahasa itu sendiri, para penganjur Formalisme Rusia juga berkeyakinan bahwa kajian sastra haruslah berpusat pada wujud sastra itu sendiri. Mengkaji karya sastra berarti mengkaji poetika (poetics) nya, yaitu menganalisis bagian-bagian form atau bentuk maujud yang menyusun suatu karya sastra, termasuk di dalamnya mekanika internal dan, khususnya, bahasa puitis yang dipakai di dalam karya itu sendiri.

Mekanika internal inilah (yang disebut juga sebagai perangkat atau devices) yang menurut mereka merupakan bangunan yang menjadikan suatu teks berseni dan memiliki sifat sastra. Setiap perangkat atau fitur komposisi memiliki sifat-sifat tertentu yang dapat dianalisis. Analisis atas perangkat literer dan artistik yang dipakai oleh pengarang untuk menghasilkan sebuah teks inilah yang menjadi dasar bidang ilmu kesusasteraan baru yang mereka usulkan.

Perhatian yang diberikan oleh Formalisme Rusia pada bahasa yang dipakai di dalam teks (literariness) ini didasari pada keyakinan bahwa bahasa sastra memiliki karakteristik yang berbeda dengan bahasa sehari-hari. Bahasa sastra mempunyai sifat mengedepankan dirinya sendiri (foregrounding itself) dan menciptakan apa yang disebut oleh Victor Shklovsky (salah satu tokoh utama Formalisme Rusia) sebagai proses pentaklaziman (defamiliarization). Melalui struktur, citraan, sintaksis, pola rima, paradoks, dan perangkat-perangkat lain yang digunakannya, bahasa sastra menciptakan apa yang disebut Shklovsky sebagai “ruang persepsi baru” di mana hal-hal yang lazim dipelintir menjadi tak lazim dan hal-hal lama dipandang dengan kacamata baru sehingga pembaca dipaksa memperlambat pemahamannya atas kata-kata dan objek sehari-hari dan merenungkan kembali citraan yang muncul.

Selain menelaah perangkat-perangkat yang menyusun puisi, Shklovsky juga mencoba menganalisis prosa naratif dan mengemukakan dua aspek penting yang menyusunnya, yaitu fabula (cerita) dan syuzhet (plot). Fabula adalah bahan dasar cerita yang dimiliki oleh pengarang; sedangkan syuzhet adalah perangkat literer yang dipakainya untuk menggubah bahan dasar cerita menjadi plot.

Formalisme Rusia mempunyai sumbangan penting dalam perkembangan kajian sastra dan teori sastra dengan mendefinikan kembali makna teks sebagai suatu kesatuan konvensi dan perangkat literer yang dapat dianalisis secara objektif. Dengan demikian, teks (sastra) tidak lagi dianggap sebagai refleksi atas maksud dan/atau pandangan dunia pengarang, namun sebuah sistem tertutup yang mempunyai hukum-hukumnya sendiri layaknya objek-objek kajian ilmiah lain.